Sabtu, 05 Desember 2015

REVIEW ARTIKEL

Butler, Melani & Lowe, Kelly Van. (2010). Using Differentiated Instruction in Teaching Education. International Journal for Mathematics Teaching and Learning. Vol. 11, No. 1, hal.1-10.  Diunduh dari: www.cimt.plymouth.ac.uk/journal/butler.pdf [12 Mei 2013]
Oleh: Ali Shodikin

PENDAHULUAN
Tomlinson (1999) mengartikan Differentiated Instruction (DI) sebagai suatu cara untuk mencocokan pengajaran sesuai kebutuhan peserta didik terhadap tujuan pembelajaran dengan memaksimalkan potensi setiap peserta didik dalam area tertentu. Dalam prosesnya, para pengajar memberikan berbagai kegiatan, konten atau isi, penilaian yang berubah-ubah dan juga beberapa kombinasi dari ketiganya untuk membantu setiap peserta didik untuk meraih kesuksesan. Sedangkan Good (2006) menggambarkan pembedaan pengajaran dengan beberapa gagasan seperti berikut ini:
It’s a way of thinking about teaching and learning that advocates beginning where individuals are rather than with a prescribed plan of action, which ignores student readiness, interest, and learning profile. It is a way of thinking that challenges how educators typically envision assessment, teaching, learning, classroom roles, use of time, and curriculum. It is good teaching focused on key concepts and skills based on those concepts. All students, regardless of ability or readiness, should be challenged to make sense of these essential understandings.
    Berdasarkan uraian diatas, dapat dikemukakan bahwa Differentiated Instruction (DI) merupakan sebuah cara berfikir tentang pengajaran dan pembelajaran yang dapat menyokong langkah para individu untuk lebih menentukan perencanaan tindakan yang awalnya mengabaikan kesiapan, ketertarikan, dan profil pembelajaran peserta didik. Differentiated Instruction (DI) juga merupakan sebuah cara berfikir yang menantang dengan pertanyaan seperti bagaimana para pendidik memimpikan sebuah penilaian, pengajaran, pembelajaran, peranannya di kelas, pemaksimalan waktu dan kurikulum. Juga memiliki fokus pengajaran yang baik yang terletak pada konsep utama dan kemampuan yang berdasar pada berbagai konsep. Seluruh peserta didik ditantang untuk memaknai pemahaman esensi ini tanpa menghiraukan kemampuan atau kesiapannya.
Latar belakang masalah penelitian ini didasari oleh hasil pembelajaran matematika yang dilakukan pada peserta didik calon guru tingkat Sekolah Dasar (SD) pada materi pecahan dan bilangan bulat, khususnya tentang pecahan, peluang dan manipulasinya. Kasus terjadi pada dua semester pertama pada kuliah Konsep Matematika untuk Guru (Concepts of Math for Teachers) yang dilakukan dengan perlakuan tanpa membedakan. Saat mengajar topik tersebut, ada kejutan sekaligus kecemasan dimana sebagian peserta didik sudah mampu menguasai materi pecahan yang ada di semester pertama, namun ada juga yang masih dirasa tidak mampu untuk mengerjakan soal berbentuk pecahan, seperti halnya mengerjakan soal peluang di semester kedua. Sehingga memunculkan pertanyaan penelitian, “Bagaimana jika pembelajaran tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pemahaman peserta didik pada materi yang diajarkan? Bagaimana perubahan mata pelajaran dapat mempengaruhi peserta didik yang telah mahir menguasai materi ini terlebih dulu? Hal apa yang bisa dilakukan untuk membantu seluruh peserta didik mencapai ketuntasan, terutama dalam materi pecahan?”.

INTISARI ARTIKEL
Pelaksanaan penelitian dilakukan di musim gugur tahun 2008, dimana dipilih dua kelas secara acak untuk menerima pembelajaran Differentiated Instruction (DI) dan pembelajaran dengan metode seperti biasanya. Seluruh peserta didik yang terlibat dalam pelajaran matematika dilakukan pretes terlebih dahulu berkaitan dengan pelajaran yang diajarkan. Bagi para peserta didik pada kelompok dengan pembelajaran Differentiated Instruction (DI), hasil pretes digunakan untuk menempatkan pengkategorian mereka ke dalam kelompok yang sesuai. Para peserta didik di kedua kelompok juga mendapatkan postes yang kemudian hasil dari kedua tes tersebut dibandingkan.
Peserta dalam penelitian ini melibatkan 39 peserta didik tingkat sarjana yang terdaftar di Jurusan Ilmu Matematika. Sebagian besar para peserta didik telah melewati semester pertama dalam masa studinya. Kelompok dengan metode Differentiated Instruction (DI), terdiri atas 20 peserta didik, sementara kelompok kontrol 19 peserta didik. Kedua kelas tersebut diajarkan oleh pengajar yang sama yang dahulunya pernah mengajarkan materi yang sama. Hal ini untuk mengontrol supaya faktor guru tidak berpengaruh (dapat diabaikan).

Hasil Penelitian Kuantitatif
Untuk membandingkan kedua kelompok sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan one-way analysis of variance (ANOVA) yang digunakan untuk mengolah nilai yang didapat dari pretes yang bertujuan untuk melihat apakah muncul perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pengimplementasian metode pembedaan pengajaran. Meskipun sebenarnya untuk membandingkan dua kelompok, tidak perlu dilakukan uji ANOVA, namun cukup dengan uji-t berpasangan baik dependen maupun independen. Dalam penelitian ini, ANOVA juga digunakan untuk membandingkan nilai dari kuis yang diadakan dikedua bagian tersebut. Didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretes dengan hasil kuis.
ANOVA kemudian diaplikasikan untuk mengolah nilai ujian akhir. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dilihat dari hasil ujian akhir, F (1,38) = 5.536, p < 0,05, dengan jenjang perbedaan (M = 149.947, SD = 30.395). Berikut adalah ringkasan tabel analisisnya.
Tabel 1. ANOVA hasil nilai ujian akhir
Kelompok
N
Nilai Rata-rata
SD
F
Kontrol
19
149.947
30.395
5.536*
Pembeda
20
170.100
22.732

Catatan: tanda bintang (*) menandakan tingkat signifikansi yaitu p < 0.05
Tanggapan terkait pertanyaan pada survey, para peserta didik mengisi pertanyaan berbentuk Likert Scale dengan rentang nilai 1 (sangat setuju) hingga 5 (sangat tidak setuju). Tes ANOVA juga digunakan untuk membandingkan tanggapannya terhadap post survey antara kedua bagian tersebut. Banyak analisa yang ditemukan tidak signifikan, maka di bagian ini tidak dibicarakan lebih lanjut. Satu perbedaan yang signifikan ditemukan bahwa “Pengerjaan bilangan pecahan adalah hal mudah”, F (1.33) = 4.379, p < 0,05, dengan jenjang pembeda (M = 3.778, SD = 1.166) jawaban yang cenderung lebih banyak mengungkapkan sisi negatif pada kelompok kontrol (M = 3.095, SD = 0.827). Paparan hasil analisanya dapat dilihat di tabel 2.
Tabel 2. ANOVA: pernyataan “Pengerjaan dengan bilangan pecahan adalah mudah”
Kelompok
N
Nilai Rata-rata
SD
F
Kontrol
17
3.095
0.827
4.379*
Pembeda
18
3.778
1.166

Catatan: tanda bintang menandakan tingkat signifikansi yaitu p < 0.05
Dengan demikian peserta didik di kelompok pembeda mendapatkan bahwa pengerjaan dengan bilangan pecahan jauh lebih sulit dibandingkan peserta didik yang ada di kelompok kontrol. Hasil ini menginspirasi peneliti untuk melakukan penghitungan ANOVA untuk membandingkan pernyataan-pernyataan pada Likert Scale mulai dari survey sebelum hingga sesudah untuk pengimplementasian pembedaan pengajaran berikut ini. Terdapat perbedaan yang signifikan mulai dari survey sebelum dan sesudah, F (1.35) =, p < 0.01, yang berarti tanggapan para peserta didik lebih positif pada hasil tes sebelum (M = 2.632, SD = 1.065) dibandingkan tes survey sesudah (M = 3.778, SD = 1.166). Tabel ketiga meringkas hasil analisisnya.
Tabel 3. ANOVA: “Pengerjaan dengan bilangan pecahan adalah hal yang mudah”
Kelompok
N
Nilai Rata-rata
SD
F
Survey sebelum
19
2.632
1.065
9.763*
Survey sesudah
18
3.778
1.166

Catatan: tanda bintang menandakan tingkat signifikansi yaitu p < 0.01

Hasil Penelitian Kualitatif
Jawaban atas pernyataan singkat dalam survey dibaca sebagai gagasan selanjutnya. Banyak jawaban atas pernyataan yang dilontarkan ini tidak dapat diidentifikasi seperti apa yang dilakukan dengan kelompok pembeda, namun pembelajarannya lebih terlihat seperti keseluruhan. Akan tetapi, pada pertanyaan ketiga ditanyakan secara lebih spesifik lagi kepada para peserta didik mengenai apa yang muncul dalam benak mereka tentang pembedaan pengajaran di dalam kelas matematika.
Pada pernyataan yang diungkapkan pada bagian pembeda, tiga blok gagasan ditemukan. Gagasan pertama ialah bahwa peserta didik berfikir pembedaan memberi mereka lebih banyak waktu bersama pengajar mereka. Sebagai contoh, salah seorang peserta didik berkata, “saya menyukainya karena hal tersebut menunjukkan seberapa banyak kita memahami materi di awal pembelajaran. Para peserta didik mendapat lebih banyak waktu dengan gurunya untuk menguasai materi dan juga peserta didik yang telah memahami materi terlebih dulu memiliki kesempatan untuk mempelajari materi satu tingkat di atasnya untuk kemudian mengaplikasikannya”. Gagasan kedua pada bagian pembeda ini ialah meningkatkan kualitas sebuah gagasan yang juga didukung oleh kutipan sebelumnya. Gagasan selanjutnya yaitu pembedaan pelajaran banyak membuang waktu. Sebagai contoh, salah seorang peserta didik berkata, “saya tidak menyukainya. Saya tahu bagaimana mengerjakan soal matematika, namun saya masih merasa seperti saya tidak belajar apa-apa ketika berkelompok”. Secara umum, jawaban atas pertanyaan survey tersebut menyatukan antara komentar positif dan negatif.
Sementara itu, yang terjadi pada kelompok kontrol juga berupa usaha penyatuan, tetapi sebagian besar tanggapan menggambarkan perbedaan dengan makna yang baik, hanya beberapa peserta didik yang memberi kesan kurang baik. Tanggapan yang didapat pada bagian ini ialah, “saya rasa ide yang bagus untuk melakukan pembedaan pengajaran karena setiap peserta didik belajar dengan cara yang berbeda pula”. Tidak ditemukan gagasan ideal lain yang mampu untuk diidentifikasi lebih lanjut lagi.

KESIMPULAN
Hasil survey menunjukkan bahwa beberapa peserta didik memberikan kesan negatif terhadap pembedaan perlakuan, beberapa peserta didik di kelompok yang mengaplikasikan metode Differentiated Instruction (DI) tidak lebih unggul hasil ujian akhir dari peserta didik di kelompok kontrol. Terlebih lagi, para peserta didik yang diaplikasikan metode ini memberi kesan kurang memuaskan terhadap kemampuan mereka untuk mengerjakan soal bilangan pecahan, baik dari hasil survey sebelum maupun sesudah dibandingkan dengan hasil pada kelompok kontrol.
Dari pelajaran ini, ada beberapa pertimbangan praktikal tentang metode Differentiated Instruction (DI). Dalam sebuah kelas di universitas, menjadi hal yang sangat sulit untuk membedakan kesiapan antar peserta didik dan menjaga supaya tidak ada peserta didik yang mengetahui di kelompok dengan tingkat manakah mereka akan ditempatkan. Dalam jawaban pertanyaan singkat survey, peserta didik dari kedua kelompok menyebutkan bahwa dengan adanya pembedaan bisa menimbulkan kecemburuan terhadap perasaan peserta didik. Dalam pelajaran yang digunakan untuk penelitian ini, perhatian adalah hal yang sangat diperlukan untuk membuat seluruh kelompok merasa berharga dan interpretasi peserta didik sendiri terhadap tingkat kemampuan yang mereka miliki.
Dalam jawaban singkat pada pertanyaan sebuah survey, para peserta didik memberi tanggapan baik positif maupun negatif perihal pembedaan. Ini adalah catatan yang sangat berharga, dan juga banyak peserta didik yang memberi kutipan positif untuk meningkatnya perhatian kepada guru. Banyak pula peserta didik yang memberi respon negatif yang menyebutkan untuk menjadi satu dari dua kelompok yang mahir memerlukan kerja keras dari diri mereka sendiri. Beberapa peserta didik dalam kelompok mandiri terlihat lebih fokus bahwa nilai mereka berubah dikarenakan berkurangnya waktu dari keberadaan arahan langsung sebelumnya, sehingga kerja yang lebih giat harus dilakukan untuk membantu peserta didik yang telah mahir merasa didukung dan ditantang pada waktu 

ini dari tugas b. inggris sem 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar